Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Semester Ganjil

 
PELUKIS TERMUDA
            Melukis itu menyenangkan dan mengasyikkan. Meskipun baru kelas 2 SD, Lalitya sudah dikenal sebagai pelukis berbakat. Sejak balita, Lalitya sudah pandai melikis.
            Bapak Jaya Suprana dari Museum Rekor Muri Indonesia (MURI) mencatatnya sebagai “Pelukis Keramik Termuda”. Lalitya banyak meraih trofi dan penghargaan tingkat Lokal, Nasional dan Internasional. Kedua Orang tuanya, Drs. Adi Susilo dan Sri Rahayau sangat mendukung Lalitya Untuk maju dalam dunia seni.
            Selain melukis, ternyata di sekolah pretasi Lalitya untuk semua pelajaran sangat bagus. Lalitya juga pandai menyanyi, menari, dan menjadi model cilik, bahkan Lalitya seorang mayoret di sekolahnya.

1.        Siapakah nama pelukis yang disebutkan dalam cerita diatas ?

a.      Jaya Suprana
b.      Adi Susilo
c.       Sri Rahayu
d.      Lalitya

2.        Kapankah Lalitya memulai bakat melukis nya ?

a.      Kelas 2 SD
b.      Sejak balita
c.       Usia 8 tahun
d.      Usia 7 tahun

3.        Apakah prestasi Lalitya selain Melukis ?

a.      Pintar Menyanyi
b.      Menjadi Model
c.       Berprestasi dalam belajar
d.      Pandai Menari

4.        Bagaimanakah sikap Kedua orang tua Lalitya terhadap bakat melukis anaknya ?

a.      Sangat mendukung
b.      Kurang mendukung
c.       Tidak peduli
d.      Biasa – biasa saja

5.        Kalimat utama dari paragraf pertama adalah…

a.      Melukis itu menyenangkan dan mengasyikkan.
b.      Bapak Jaya Suprana dari Museum Rekor Indonesia (MURI).
c.       Prestasi Lalitya dalam belajar sangat bagus.
d.      Lalitya pandai menyanyi dan menari.



Penduduk desa asyik menikmati hidangan pesta sedekah bumi, tiba-tiba datang seorang anak dengan pakaian compang-camping meminta makanan namun mereka mengusirnya dengan kasar. Ada seorang Nenek tua yang penuh belas kasih member minuman dan makanan serta mempersilahkan anak tersebut tinggal di gubuknya.
Beberapa saat kemudian, Si anak mendatangi penduduk desa, ia menantang orang-orang desa untuk uji kekuatan mencabut lidi yang ditancap kan anak itu ditanah, namun tak seorangpun dapat mencabutnya, akhirnya penduduk menyerah dan meminta si anak mencabutya.
Si anak dengan mudah mencabut lidi itu, air menyembur dan menenggelamkan penduduk yang kikir dan sombong itu, hanya Nenek dan Si anak yang selamat berkat pertolongan Tuhan. Desa yang tengelam itu menjadi sebuah danau raksasa dengan sebutan Rawa Pening.

Selengkapnya silahkan bapak ibu unduh disini

Komentar